Kita harus berhenti menakut-nakuti auditee dengan Temuan Surveillance

opini:

Kita harus berhenti menakut-nakuti auditee dengan Temuan Surveillance. Dalam waktu sebentar saya menjadi auditor, saya telah melakukan beberapa dosa. Salah satu dosa itu adalah “Menakut-nakuti auditee dengan Temuan Surveillance”. Saya sering berkata, “bapak/ibu harus lakukan prosedur ini, harus menyimpan rekaman ini, kalau tidak, akan jadi temuan auditor eksternal lho saat surveillance”.

Jadilah kita bekerja dengan rasa takut. Rasa takut pada auditor eksternal. Kenapa? Karena saya sebagai auditor sering menakut-nakuti auditee dengan hal itu. Persis orang tua yang menakut-nakuti anaknya dengan gendoruwo. Akhirnya organisasi menjadi gerah dan capek bekerja dengan rasa takut. Akhirnya muncul lah ungkapan-ungkapan “Standard ISO ini bikin cape ya”, “ISO menyulitkan kerja kita”, “Sudahlah tahun depan ISO tidak perlu diimplementasikan lagi”. Kita ingin bebas dari rasa takut dan tertekan oleh auditor eksternal.

Saya rasa, dosa ini harus dihentikan. Ketika ditanya kenapa prosedur harus dilakukan? Kenapa rekaman dan dokumen harus disimpan? Jawabannya bukan untuk menyiapkan surveillance atau audit eksternal nanti. Bukan untuk membahagiakan auditor eksternal. Tapi jawabannya karena untuk memudahkan kerja kita dan untuk kebaikan organisasi. Untuk membahagiakan diri kita sendiri. Kita sebagai auditor perlu lihai menggali makna, faedah, fadilah dari setiap pelaksanaan prosedurl, jobdesc, dan dokumen mutu lainnya.

Mari timbulkan kesadaran di organisasi bahwa kita cape cape buat prosedur, mengukurnya, menjaganya, itu supaya organisasi makin baik, makin sukses. Kalau prosedur tidak ditaati akibatnya organisasi akan buruk. Dan kita sungguh rugi. Audit hanya sebagai alat ukur dan alat deteksi potensi rugi itu. Bila pun kita menerima finding/temuan, itu tidak se-mengerikan organisasi yang akan karam.Kita fokus pada semangat memperbaiki organisasi, bukan untuk tampil baik di depan auditor eksternal.

Kalau ternyata dokumen mutu itu tidak membuat organisasi makin baik, mungkin sudah saatnya prosedur, pedoman, dan jobdesc itu diganti.

Jadi mari saat audit internal, kita tidak perlu sebut-sebut lagi soal surveillance, soal auditor eksternal, soal asesor. Kita fokus pada diskusi mencari cara agar proses di organisasi makin baik. Biarlah rasa ngeri menghadapi para auditor eksternal, dinikmati SAI saja.

oleh: Rio Aurachman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *